Rabu, 20 September 2017

Dasar-dasar Perilaku Individu Materi Kuliah

Pengertian E-GOVERNMENT

Pengertian E Commerce dan B2B

E Commerce
Pengertian e-commerce menurut Philip Kotler dan Kevin Keller dalam bukunya yang berjudul Marketing Management (2012; p.460) adalah penggunaan website untuk bertransaksi atau memfasilitasi penjualan produk dan jasa secara online.
Berdasarkan jurnal yang berjudul Strategic Decision-Making In the Emerging Field Of E-commerce (2010; p.19-26). E-commerce didefinisikan sebagai membeli dan menjual produk atau jasa melalui internet dan penggunaan sistem komputer untuk meningkatkan efisiensi perusahaan secara keseluruhan. Biasanya terdiri dari perdagangan yang terjadi melalui pembeli mengunjungi website penjual dan transaksi online.
Dikutip dari jurnal berjudul The influence of bussiness conten and navigation efficiency on the WEB visitor`s satisfaction in the context of websites supporting B2C electronic commerce in indonesia (2000; p.9). Electronic Commerce menggambarkan proses pembelian, penjualan, transfer, atau pertukaran produk, jasa dan informasi melalui jaringan komputer, termasuk internet.
Kategori E Commerce
Menurut jurnal Strategic Decision-Making In the Emerging Field Of E-commerce. (2010; P.529-532). Ada empat definisi e-commerce menurut Kotler, yaitu:
1. B2B (Business to Business)
E-commerce membuat perusahaan kini dapat membuat pembelian lebih efisien dengan bantuan e-commerce dan jumlah informasi yang disediakan oleh Internet. Internet telah menciptakan pasar baru untuk transaksi berlangsung, dan perusahaan telah mengambil keuntungan dari internet secara penuh. Busines to Busines (B2B) juga dapat diartikan sebagai sistem komunikasi bisnis online antar pelaku bisnis (Onno W. Purbo, 2000:2), terdiri atas:
1.  Transaksi Inter-Organizational System (IOS), misalnya transaksi extranest, electronic funds transfer, electronic forms, intrgrated messaging, share data based, supply chain management, dan lain-lain.
2.  Transaksi pasar elektronik (electronic market transfer) (Munir Fuady, 2005 : 408).
Tujuan B2B sebagai berikut :
Tujuan suatu perusahaan menggunakan sistem E-Commerce adalah dengan menggunakan E-Commerce maka perusahaan dapat lebih efisien dan efektif dalam meningkatkan keuntungannya



Karakteristik Busines to Busines (B2B)
Trading Partners yang sudah diketahui dan umumnya memiliki hubungan (relationship) yang cukup lama. Informasi hanya dipertukarkan dengan partner tersebut. Sehingga jenis informasi yang dikirimkan dapat disusun sesuai kebutuhan dan kepercayaan (trust).
Pertukaran data (data exchange) berlangsung berulang-ulang dan secara berkala, dengan format data yang sudah disepakati bersama. Sehingga memudahkan pertukaran data untuk dua entiti yang menggunakan standar yang sama.
Salah satu pelaku dapat melakukan inisiatif untuk mengirimkan data, tidak harus menunggu partner.Model yang umum digunakan adalah per-to-per, dimana processing intelligence dapat didistribusikan di kedua belah pihak.

PENERAPAN E-GOVERNMENT DI INDONESIA ( Materi Kuliah Sistem Informasi Manajemen )

E-Gov di Indonesia mulai dilirik sejak tahun 2001 yaitu sejak munculnya Instruksi Presiden No. 6 Tahun 2001 tgl. 24 April 2001 tentang Telematika (Telekomunikasi, Media dan Informatika) yang menyatakan bahwa aparat pemerintah harus menggunakan teknologi telematika untuk mendukung good governance dan mempercepat proses demokrasi. Namun dalam perjalanannya inisiatif pemerintah pusat ini tidak mendapat dukungan serta respon dari segenap pemangku kepentingan pemerintah yaitu ditandai dengan pemanfaatan teknologi informasi yang belum maksimal.
Berdasarkan data yang ada, pelaksanaan E-Government di Indonesia sebagian besar barulah pada tahap publikasi situs oleh pemerintah atau baru pada tahap pemberian informasi, dalam tahapan Layne & Lee baru masuk dalam Cataloguing. Data Maret 2002 menunjukkan 369 kantor pemerintahan telah membuka situs mereka. Akan tetapi 24% dari situs tersebut gagal untuk mempertahankan kelangsungan waktu operasi karena anggaran yang terbatas. Saat ini hanya 85 situs yang beroperasi dengan pilihan yang lengkap. (Jakarta Post, 15 Januari 2003). Indikator lainnya adalah penestrasi internet baru mencapai 1,9 juta penduduk atau 7,6 persen dari total populasi Indonesia pada tahun 2001. Pada tahun 2002 dengan 667.000 jumlah pelanggan internet dan 4.500.000 pengguna komputer dan telepon, persentasi penggunaan internet di Indonesia sangatlah rendah. (Sumber: Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia/APJII).
Pada tahun 2003, di era Presiden Megawati Soekarno Putri, Pemerintah mengeluarkan suatu kebijakan yang lebih fokus terhadap pelaksanaan E-Gov, melalui Instruksi Presiden yaitu Inpres Nomor 3 tahun 2003. Inpres ini berisi tentang Strategi Pengembangan E-gov yang juga sudah dilengkapi dengan berbagai Panduan tentang e-gov seperti: Panduan Pembangunan Infrastruktur Portal Pemerintah; Panduan Manajemen Sistem Dokumen Elektronik Pemerintah; Pedoman tentang Penyelenggaraan Situs Web Pemda; dan lain-lain.
Demikian pula berbagai panduan telah dihasilkan oleh Depkominfo pada tahun 2004 yang pada dasarnya telah menjadi acuan bagi penyelenggaraan e-gov di pusat dan daerah. Dalam Inpres ini, Presiden dengan tegas memerintahkan kepada seluruh Menteri, Gubernur, Walikota dan Bupati untuk membangun E-government dengan berkoordinasi dengan Menteri Komunikasi & Informasi.
Di lihat dari pelaksanaan aplikasi e-gov setelah keluarnya Inpres ini maka dapat dikatakan bahwa perkembangan pelaksanaan implementasi E-Gov masih jauh dari harapan. Data dari Depkominfo (2005) menunjukkan bahwa hingga akhir tahun 2005 lalu Indonesia baru memiliki:
1.      564 domain go.id;
2.      295 website pemerintah pusat dan pemda;
3.      226 website telah mulai memberikan layanan publik melalui website;
4.      198 website pemda masih dikelola secara aktif.
Beberapa pemerintah daerah memperlihatkan kemajuan cukup berarti. Bahkan Pemkot Surabaya sudah mulai memanfaatkan e-gov untuk proses pengadaan barang dan jasa (e-procurement). Beberapa pemda lain juga berprestasi baik dalam pelaksanaan e-gov seperti: Pemprov DKI Jakarta, Pemprov DI Yogyakarta, Pemprov Jawa Timur, Pemprov Sulawesi Utara, Pemkot Yogyakarta, Pemkot Bogor, Pemkot Tarakan, Pemkab Kebumen, Pemkab. Kutai Timur, Pemkab. Kutai Kartanegara, Pemkab Bantul, Pemkab Malang.
Sementara itu dari sisi infrastruktur, layanan telepon tetap masih di bawah 8 juta satuan sambungan dan jumlah warung telekomunikasi (Wartel) dan warung Internet (Warnet) yang terus menurun karena tidak sehatnya persaingan bisnis. Telepon seluler menurut data Depkominfo tersebut telah mencapai 24 juta ss. Meski kepadatan telepon tetap di beberapa kota besar bisa mencapai 11%-25%, kepadatan telepon di beberapa wilayah yang relatif tertinggal baru mencapai 0,2%. Jangkauan pelayanan telekomunikasi dalam bentuk akses telepon baru mencapai 65% desa dari total sekitar 67.800 desa yang ada di seluruh tanah air. Jumlah telepon umum yang tersedia hingga saat ini masih jauh dari target 3% dari total sambungan seperti ditargetkan dalam penyusunan Program Pembangunan Jangka Panjang II dahulu.
Sementara itu jumlah pelanggan dan pengguna Internet masih tergolong rendah jika dibandingkan dengan total penduduk Indonesia. Hingga akhir 2004 berbagai data yang dikompilasi Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) memberikan jumlah pelanggan Internet masih pada kisaran 1,9 juta, sementara pengguna baru berjumlah 9 juta orang. Rendahnya penetrasi Internet ini jelas bukan suatu kondisi yang baik untuk mengurangi lebarnya kesenjangan digital (digital divide) yang telah disepakati pemerintah Indonesia dalam berbagai pertemuan Internasional untuk dikurangi.

Senin, 11 September 2017

" DIGITAL SKILLS "

"Penompang Masa Depan Milenial"


Banyak Kita Ketauhi Generasi Milenial yang mahir Menguasai Media digital telah bertolak Belakang dengan generasi-generasi terdahulu tertatih dalam mengikuti perkembangan media sosial yang masih terus berusaha memperbaruhi diri. generasi milenial yaitu generasi yang mudah beradaptasi dengan perkembangan Teknologi .

dalam Masalah ini Generasi Milenial sudah terlanjur atau berkecimbung dalam media Sosial,Karena itu pentingnya bagi anak muda sekarang membekali diri dengan sejumlah Kemampuan. generasi milenial akan menjadi generasi yang rapuh menghadapai kehidupan analog, cenderung egosentris, dan punya sikap kepedulian sosial yang Sangat Rendah .

Menurut Wiliam Strauss dan Neil Howe (Peneliti) , bahwa Milenial justru merupakan generasi yang menyebutkan beberapa kelebihan generasi tersebut yang membedakannya dari Generasi lainnya antara lain percaya diri, beriorientasi pada team, bisa bekerja dalam tekanan, dan selalu mencapai suatu tujuan .

 Sudah mendarah Daging Generasi Milenial dengan Media Sosial . hal terpenting yaitu membekali anak mudah dengan sejumlah kemampuan kedekatannya dengan Media Sosial, agar Kedekatan Generasi Milenial menjadi Produktif dan Fungsional .Terdapat Jumlah analisis tentang kemampuan apa yang khas di hasilkan dari bergelut di media sosial selama berjam-jam . Hal ini yang Menyebabkan kurangnya sikap Kepedulian sosial yang sangat rendah . namun Media sosial memberi Kesempatan pada setiap orang yang ingin berkarir . hal Positif ini yang Kita Lihat karena Penggunaan Media sosial tidak hanya Sebagai Pengguna saja melainkan Bisa di manfaatkan lainnya yang berarah Positif .

Untuk Sara Belajar
Media sosial menjadi Sarana Belajar bagi kaum Mudah sekarang, dalam berkarya dan berkomunikasi , banyak generasi sekarang yang mendapatkan prestasi-prestasi yang sudah ada . Masih ada generasi Milenial dalam hal penggunaan media sosial yang bisa jadi kekuatan di masa yang akan datang. jika terus dikembangkan. Misalnya kemampuan Bersinergi dengan komumitas via Online atau Offline dan jauh lagi, Merancang strategi bisnis berbasis digital serta memasarkan Produk.

dan Kita ketahui geneasi Milenial banyak di pandang Miring oleh Masyarakat di indonesia ini, padahal Seharusnya mulai di Perhitungankan dengan mengasah digital skills mereka sebagai jawaban atas skeptisime orang-orang tertentu pada kehadiran Milenial ini . Generasi Milenial ini mampu Berkolaborasi dan membangun pola berpikir yang cerdas dengan aktif mengikuti Lomba-Lomba yang Inovatif. Lomba-Lomba ini mampu Membantu membangun Pola pikir yang Produktif dengan kemampuan analisis yang mampu menjawab fenomena yang terjadi di dunia bisnis Global .

Melihat dasyatnya kemampuan Generasi Milenial ini , Membuat generasi Sebelumnya tidak dapat Menutup Mata , bagaimanapun generasi milenial ini akan menjadi partner rekan kerja, Juga sebagai Penerus kelangsungan bangsa ini sehingga harus dikejar ketinggalan dalam mengimbanginya . bagaimanapun, Kembali ke Analog bukanklah merupakan solusi yang tepat dalam menghadapi milenial ini .

Hal yang terpenting adalah , ditekankan sekarang ini bagaimana dunia digital yang sudah kadung mengurung kita dapat dimaksimalkan untuk mengembangkan kemampuan Milenial. dan memdia sosial di satu sisi memang tempat santai,bergurau,ajang mencari jodoh, dan silaturahmi. namun disisi Lain, kemampuan yang di hasilkan dari media sosial bisa sangat mencengangkan. Yang sangat penting Kita Ketahui bahwa, sosial media sangat berguna bagi pembelajaran , media berinteraksi dan mendiskusikan yang positif dan Media Informasi juga Menambah Wawasan dan kreativitas bagi penggunanya, dan Tidak Melupakan basic digital skills yang baik untuk Kedepannya .






Sumber                   

Koran Pikiran Rakyat Halaman 23
Pada tanggal 24 Juli 2017     
Penulis di Koran Pikiran Rakyat
  Lia Yuldinawati